Senin, 04 Februari 2013


CILOK (Aci di Colok)
Oleh Candra Santika

Hari senin adalah hari yang sangat menyebalkan. kata siapa? Bagi Saya hari senin merupakan hari yang sangat di tunggu-tunggu. Karena, pada hari tersebut ada mata pelajaran yang saya senangi yakni pelajaran Bahasa Indonesia.
Di mulai oleh suara bel yang bunyinya seperti jam beker, Saya bersama teman-teman pun masuk ruangan kelas. Tidak lama kemudian datanglah Bapak Irvan Novian Rahadi S.pd selaku guru Bahasa Indonesia yang keren & gaul seperti vokalis GIGI band.
Kebetulan pada hari itu UAS sebentar lagi, pak Irvan pun tidak memberikan materi tetapi menyuruh Saya dan teman-teman pergi ke lapangan. Di lapangan atau di luar sekolah Saya dan teman-teman di tugaskan untuk membuat cerpen.
Inisiatif saya untuk membuat cerpen tertuju pada seorang pedagang cilok yang melintasi jalan dadaha. Mungkin asing di telinga kalian, cilok kepanjangan dari “aci di colok".
Di mulai dari sang pedagang tersebut membunyikan kentungannya,”tok-tok-tok !” begitulah bunyinya. Saya dan satu orang teman saya yang bernama Deri memanggil pedagang tersebut.
“Mang-mang cilok mang !” kata Deri sambil melambaikan tangannya. Lalu pedagang tersebut menghampiri Saya dan Deri.
Sedikit terlintas dari benak Saya, betapa kerasnya persaingan industri atau perdagangan khususnya di Negara kita tetapi pedagang makanan khas sunda ini tetap menggeluti bidang yang mungkin sudah bertahun-tahun ia keluti. Walaupun cuaca panas ataupun hujan ia terus mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Sikap inilah yang patut kita contoh yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain.
“Berapa satunya mang ?” kata Saya sambil mengambil uang dari sakunya.
“Rp.500 De”. Kata pedagang itu.
“Beli 2 saja mang !” kata Saya sambil memberikan uang Rp.1000 kepada pedagang tersebut.
Melihat Saya membeli cilok , Deri pun rasanya ingin merasakan sensasinya.
“Kalau semuanya kira-kira berapa ya mang ?” kata Deri seolah-olah serius. Lalu pedagang tersebut memikirkan jumlahnya.
“Beli 2 saja mang ?” kata Deri sambil tersenyum.
Setelah pedagang melayani, pedagang tersebut berjalan selangkah demi selangkah dengan penuh semangat mendorong gerobaknya untuk mencari lagi pembeli.




Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar