CILOK (Aci di Colok)
Oleh Candra Santika
Hari
senin adalah hari yang sangat menyebalkan. kata siapa? Bagi Saya hari senin
merupakan hari yang sangat di tunggu-tunggu. Karena, pada hari tersebut ada
mata pelajaran yang saya senangi yakni pelajaran Bahasa Indonesia.
Di
mulai oleh suara bel yang bunyinya seperti jam beker, Saya bersama teman-teman
pun masuk ruangan kelas. Tidak lama kemudian datanglah Bapak Irvan Novian
Rahadi S.pd selaku guru Bahasa Indonesia yang keren & gaul seperti vokalis
GIGI band.
Kebetulan
pada hari itu UAS sebentar lagi, pak Irvan pun tidak memberikan materi tetapi
menyuruh Saya dan teman-teman pergi ke lapangan. Di lapangan atau di luar
sekolah Saya dan teman-teman di tugaskan untuk membuat cerpen.
Inisiatif
saya untuk membuat cerpen tertuju pada seorang pedagang cilok yang melintasi
jalan dadaha. Mungkin asing di telinga kalian, cilok kepanjangan dari “aci di
colok".
Di
mulai dari sang pedagang tersebut membunyikan kentungannya,”tok-tok-tok !”
begitulah bunyinya. Saya dan satu orang teman saya yang bernama Deri memanggil
pedagang tersebut.
“Mang-mang
cilok mang !” kata Deri sambil melambaikan tangannya. Lalu pedagang tersebut
menghampiri Saya dan Deri.
Sedikit
terlintas dari benak Saya, betapa kerasnya persaingan industri atau perdagangan
khususnya di Negara kita tetapi pedagang makanan khas sunda ini tetap menggeluti
bidang yang mungkin sudah bertahun-tahun ia keluti. Walaupun cuaca panas
ataupun hujan ia terus mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Sikap
inilah yang patut kita contoh yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan
orang lain.
“Berapa
satunya mang ?” kata Saya sambil mengambil uang dari sakunya.
“Rp.500
De”. Kata pedagang itu.
“Beli
2 saja mang !” kata Saya sambil memberikan uang Rp.1000 kepada pedagang
tersebut.
Melihat
Saya membeli cilok , Deri pun rasanya ingin merasakan sensasinya.
“Kalau
semuanya kira-kira berapa ya mang ?” kata Deri seolah-olah serius. Lalu
pedagang tersebut memikirkan jumlahnya.
“Beli
2 saja mang ?” kata Deri sambil tersenyum.
Setelah
pedagang melayani, pedagang tersebut berjalan selangkah demi selangkah dengan
penuh semangat mendorong gerobaknya untuk mencari lagi pembeli.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar